Sejarah Desa Niaso
SEJARAH BERDIRINYA DESA NIASO
Niaso merupakan sebuah desa yang terletak dalam (daerah) kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Indonesia.Poskod yang digunakan di Niaso adalah 36382. Terdapat 20 buah desa di dalam daerah kecamatan Maro Sebo. Desa niaso terletak diseberang kota Jambi yang
lebih tepat lagi diseberang desa Kunangan. Desa ini berjarak ± 20 km dari Kota
Jambi, terletak di Kecamatan Maro Sebo Kabupatn Muaro Jambi diujung Kecamatan
Maro Sebo berbatasan langsung dengan desa Bakung dan diujung kota Jambi
berbatasan dengan Tanjung Johor Kecamatan Pelayangan Kota Madya Jambi. Untuk
bisa sampai kedesa Niaso, kita bisa menempu perjalanan dengna menggunakan
kendaraan roda dua maupun roda empat dengan melewati jembatan aurduri II, ± 20
meter setelah jembatan aurduri II belok kekiri dan tidak begitu jauh maka
terlihat jembatan pembatas antara jembatan aurduri II kota Jambi dengan Desa
Niaso. Kemudian ikuti jalan yang menyusuri pinggiran sungai Batanghari yang
berada disebelah kanan, pada saat bertemu 2 toko yang berada dipinggir jalan
sebelah kiri dan bertemu lorong, masuk saja kelorong sebelah kiri tersebut.
Pada zaman dahulu kala belum ada yang namanya desa Niaso. Diseberang Desa Niaso
sekarang terdapat sungai Niaso, yang dahulu sungai ini juga belum memiliki
nama. Deseberang sungai ini dahulu ± 1 km masuk kedalam hutan ada sebuah
pemukiman penduduk yang kurang lebih memiliki 7 buah rumah huni untuk penduduk
setempat, mereka adalah orang pendatang semua yang terdiri dari beberapa suku,
yaitu suku Melayu dan suku Jawa, mereka masuk kehutan membuat pemukiman sendiri
jauh dari pemukiman yang lain dikarenakan mereka tidak mau dijajah oleh
Belanda. Asal mula mereka datang menemukan pemukiman baru ini dengan menelusuri
sungai Batanghari lama menelusuri sungai mereka menemukan muaro sungai mereka
pun memasuki muaro sungai, terus memasuki anak sungai ini, sesampai disungai
kecil ini medan yang dilewati makin berat karena dipermukaan air sungai banyak
sekali terdapat tumbuhan kiambang dalam bahasa setempat, yang lebih kita
dikenal dengan nama tumbuhan encenggondok, dengan susah payah menempuh medan
berat yang membutuhkan perjalanan satu hari penuh, mereka pun mulai naik
kedaratan perjalanan pun dilanjutkan dengan berjalan kaki, rombongan ini
berjalan terus masuk kedalam hutan setelah kurang lebih menempuh perjalanan
yang berjarak 1 km dari sungai akhirnya berhenti untuk beristirahat, badan
mereka terasa letih menempuh perjalanan panjang. Setelah mereka merasa segar kembali
mereka pun pergi meninggalkan tempat peristirahatan, akhirnya tempat yang
mereka singgah menjadi tempat pemukiman. Setelah itu mulailah mereka mendirikan
pondok-pondok untuk tempat tinggal mereka, maka diperkirakan berdirilah
sebanyak 7 buah pondok tempat tinggal mereka dan diperkirakan pondok ini
semuanya menghadap kebarat yaitu menghadap matahari tenggelam. Kehidupan mereka
mulai dijalankan seperti pada masyarakat umum lainnya, haripun mulai berganti
hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, keluarga mereka pun mulai
bertambah dengan datangnya angka kelahiran. Tapi ada yang membuat resah hati
mereka yaitu berapa banyak yang lahir selalu seimbang dengan angka kematian
diantara penduduk, mereka mulai berpikir untuk mengatasi permasalahan yang sedang
dihadapi karena dari 7 buah pondok tidak bertambah, jumlah pondok tidak
bertambah berarti penduduknya pun juga tidak bertambah, akhirnya untuk
mengatasi permasalahan yang ada mereka pindah dari dusun ini untuk mendari
tempat yang baru, diperkirakan lebih baik dari tempat yang sekarang mereka
huni. Dusun ini akhirnya dikenal dengan nama Dusun Tuo, didusun tuo ini belum
diketahui berapa lama menjadi perkampungan tempat tinggal asli warga niaso.
Perjalanan pencari tempat baru untuk dijadikan perkampungan pun mulai
dilakukan, mereka meninggalkan dusun tuo perjalanan pun dimulai menelusuri
lebatnya hutan belantara dengan membawa semua perlengkapan rumah tangga yang
dianggap sangat diperlukan untuk bekal diperjalanan maupun untuk menyambung
hidup baru, kurang lebih berjarak 500 meter dari dusun tuo mereka berhenti,
kalau dihitung dari pinggir anak sungai jaraknya ± 1.5 km dan mulailah
membangun perkampungan baru, bahu membahu mereka mulai mendirikan pondok/rumah
untuk tempat tinggal, rasa kekeluargaan diantara mereka sangat tinggi walaupun
terdiri dari berbagai suku. Ditempat yang baru ini penduduknya mulai bertambah
dapat dilihat dari 7 buah rumah diperkirakan waktu itu menjadi 17 buah, ini
tentu menjadi perkembangan yang sangat baik dalam pertumbuhan penduduk ,
pertumbuhan ini menimbulkan semangat baru bagi mereka, kehidupan dijalankan
dengan adat istiadat yang mereka tetapkan untuk menambah kerukunan diantara
mereka, haripun mulai berganti hari, tahun berganti tahun, kehidupan dijalankan
sebagaimana mestinya, rupa-rupanya pertumbuhan penduduk ini tidak lebih dari
sebatas 17 rumah saja, nasib sebatas 17 rumah saja, nasib yang terjadi didusun
tuo terulang kembali didusun baru ini, dusun baru ini dinamakan dengan nama
Dusun Lamo, diperkirakan pada waktu itu tiap tahunnya angka kelahiran selalu
diimbangi dengan angka kematian kembali, permasalahan ini kembali membuat resah
hati penduduk. Ditengah - tengah penduduk tersebut ada seorang ulama yang cukup
disegani oleh sesama penghuni dusun ini, Ia bernama Syekh Usman Daud Bapaknya
berasal dari keturunan Turki yaitu anak dari Datuk Berhalo sedangkan Ibunya
berasal dari Kerinci. Pada suatu hari Syekh Usman Daud berjalan-jalan terus
menyelusuri sungai yang airnya hitam ini, perjalanan panjang akhirnya sampai
juga menuju muaro sungai. Muaro sungai ini menghubungkan dengan sungai
Batanghari, sesampai kemuaro sungai, mata Syekh Usman Daud tertuju ke dalam
sungai, dilihatnya banyak sekali ikan didalamnya, diambilnya rumput dipinggir
sungai dilemparkan rumput tadi kedalam sungai. Rupanya apa yang terjadi, ikan
tadi berebutan memakan rumput, karena melihat banyak sekali ikan untuk
memancing, tapi Syekh merasa bingung karena tidak membawa pancing untuk
menangkap ikan, lama berpikir akhirnya timbul ide dilihatnya dijari tangannya ada
sebuah cincin Suwaso berwarna kekuning-kuningan, dilepaslah cincin tersebut
yang bertujuan untuk dibuat kail pancing, cincin tersebut diluruskan terus
dibengkokan kembali, dibentuk mirip sebuah mata kail pancing terus diikatkan ke
sebuah tali yang berada di pinggirnya, sewaktu mau meletakkan pancing ke sungai
Syekh memotong kulit telapak kakinya untuk dijadikan umpan. Karena potongannya
terlampau dalam hingga kakinya mengeluarkan darah, tapi alangkah terkejutnya
Syekh meliha darahnya bukan berwarna merah tapi berwarna putih, tapi akhirnya
tidakh di hiraukannya darah yang terus keluar, niat memancing terus
dilaksanakan, pancingan pun dilemparkan kedalam sungai, tidak begitu lama
pancingan Syekh ditarik ikan, setelah diangkat terlihatlah yang memakan pancingan
Syekh, dan ternyata Ikan Kalso atau nama lain ikan Harwana. Dari kisah
memancing inilah muaro sungai tadi dinamakan Niaso yang berasal dari kata
cincin suwaso dan ikan kalso. Muara sungai yang dinamakan Niaso merambah terus
menjafi nama sungai yang ada di dalam muaro sungai tersebut. Kita kembali ke
kisah Syekh Usman Daud yang memancing ikan tersebut, Syekh merasa senang
mendapat ikan tersebut, ia pun pulang ke dusun Lamo, kembali menyusuri sungai
umtuk menuju perjalanan pulang akhirnya perjalanan menuju Desa Lamo sampai
juga, sesampai di Dusun orang-orang heran melihat Syekh membawa ikan kalso yang
ukurannya cukup besar tapi tidak ada satupun membawa peralatan yang menangkap
ikan. Orang-orang pun akhirnya beramai-ramai mendekati Syekh Usman Daud menanyakan
bagaiman bisa mendapat ikan kalso tersebut, akhirnya Syekh Usman Daud
menceritakan kisah penangkapan ikan tersebut, dan menunjukan telapak kakinya
mata orang-orang tertuju pada kai Syekh, sewaktu dilihat darah masih mengalir
dari telapak kaki Syekh, orang-orang pun menanyai Syekh mengapa darah yang
keluar bukan berwarna merah tetapi berwarna putih tanya warga dengan nada yang
sedikit bingung, Syekh pun juga merasa bingung, Syekh menjawab :”saya juga
tidak tahu mengapa darah saya berwarna putih”. Kisah tersebut terus menerus
menjadi perbincangan penduduk setempat. Syekh merupakan orang yang disegani
selain itu juga dituakan di dusun tersebut dengan kejadian tersebut semenjak
dahulu hingga sekarang Syekh Usman Daud lebih dikenal dengan nama Datuk Darah Putih.
Marilah kita ceritakan asal desa Niaso sekarang, yanng mana perpindahan desa
yang untuk ketiga kalinya atau untuk terakhir kalinya. Letak Desa Niaso yang
sekarang kita kenal dahulu mmerupakan hhutan bekantara tannpa penghuni. Pada ±
tahun 1920 ada seorang yang bernama Kemas Ngebi Jalil, Ngebi merupakan gelar
kehormatan yang diberikan kolonial Belanda pada orang pribumi yang diangggap
berjasa kepada kolonial Belanda. Kemas Ngebi Jalil berasal dari desa Setiris
kedatangannya ketempat ini bertujuan untuk berkebun karet dan kebun-kebun lain
yang bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, setelah membuka kebun Kemas
Ngebi Jalil merasakan tempat ini bagus untuk dijadikan perkebunan akhirnya ia
mengajak keluarga dan kerabatnya untuk membuka kebun bersama-sama, pekerjaan
membuka kebun terus dilaksanakan, dirasa bolak-balik dari Desa Setiris cukup
jauh akhirnya Kemas Ngebi Jalil mendirikan pondok bersama keluarga dan kerabat
supaya kebun yang mereka kerjakan sesuai dengan hasil yang diharapkan. Tahun
pun berganti tahun dan pada akhirnya mereka menetap dikebun ini layaknya
seperti dususn yang baru dibuka, rombongan dari desa Setiris ini berkembang
biak, angka kelahiran pun bertambah, berita tentang perkembangan penduduk asal
desa Setiris menjadi perhatian khusus dimata Dusun Lamo, mulailah timbul niat
penduduk dusun Lamo untuk berbaur dengan penduduk pendatang dari Desa Setiris,
dengan lapang dada rombongan asal Setiris memberikan bidang tanah untuk
dijadikan tempat tinggal penduduk dusun lamo, semenjak itu penduduk dusun Lamo
semuanya ikut berbaur keluar dari dusunnya, mereka hidup berdampingan dengan
paendatang dari Desa Setiris, dusun Lamo akhirnya ditinggalkan penduduknya.
Semenjak keluarnya penduduk Dusun Lamo meninggalkan dusunnya, bergabung dengan
Kemas Ngebi Jalil, perkembangan penduduk dusun Lamo juga mengalami pertumbuhan,
hubungan antara penduduk dusun Lamo juga mengalami pertumbuhan, hubungan antara
penduduk dusun Lamo dengan penduduk dari asal Setiris mungkin begitu akrab
bagaikan satu keluarga yang tidak dapat dipisahkan dan juga terjadilah
perkawinan antara penduduk dusun Lamo dengan penduduk asal Setiris, rasa
kekeluargaan ini terjalin erat hingga sampai sekarang. Dengan kejadian
hijrahnya penduduk dusun Lamo bergabung dengan rombongan asal Setiris ini merupakan
untuk ketiga kalinya perpindahan penduduk asli Dusun Lamo, karna dusun baru ini
belum memilki nama maka diambilah nama sungai Niaso dijadikan nama desa Niaso.
Bukti sejarah Dusun Tuo dan Dusun Lamo masih ada hingga sekarang, dari
penuturan datuk SARBAINI mantan kepala kampung yang menjabat pada tahun 1973
hingga 1994 mengatakan pernah ditemui perlengkapan rumah tangga berupa guci dan
pedang dibekas dusun ini sewaktu warga membuka lahan untuk dijadikan perkebunan
karet, bukti disini dahulu ada pernah didirikan dua buah dusun dapat dilihat
dengan bukti adanya kuburan, dan salah satu makam tersebut diyakini oleh warga
setempat adalah makam seorang ulama yang bernama Syekh Usman Daud yang lebih
dikenal dengan gelar Datuk Darah Putih. Bagi warga setempat makam ini dijadikan
makam keramat, keramat dengan kata lain sebutan untuk makam orang suci. Adapun
beberapa orang yang pernah memegang tampuk kepemimpinan didesa Niaso tempo dulu
hingga sekarang tahun 2009 diantaranya ; dengan gelar penghulu yaitu, pertama
penghulu Sahpudin menjabat ± tahun 1920 sampai 1931, kedua penghulu Usman
menjabat ± tahun 1931 sampai 1935, ketiga penghulu Nafiah menjabat ± tahun 1935
sampai 1947, keempat penghulu Yusup menjabat ± tahun 1947 sampai 1950, pada
periode kepemimpinan yang kelima berubah nama dari penghulu menjadi kepala
kampung, yang kelima yaitu; kepala kampung M. Nafiah menjabat ± tahun 1950
sampai 1971 , keenam kepala kampung Ilyas menjabat ± 1971 sampai 1973, ketujuh
kepala kampung Sarbaini tahun 1973 sampai 1994 di tengah-tengah kepemimpinan
Datuk Sarbaini terjadi perubahan nama yang memimpin desa dai kepala kampung
menjadi KADES, kedelapan dipimpin oleh Kades Jufri dari tahun 1994 sampai 2008
dan yang kesembilan dipimpin Kades Zulkifli menjabat dari akhir tahun 2008
sampai 2014 sekarang telah di pegang Kades Sarkoni sampai sekarang. Jadi mulai berdirinya desa Niaso hingga sekarang telah
dipimpin sebanyak 10 orang pemimpin desa, ditangan sepuluh datuk inilah desa
Niaso menjadi maju, yang dahulunya desa ini jauh tertinggal dan bahkan tidak
diketahui oleh orang luar. semenjak Jembatan Batanghari II di bangun dan melewati aksn jalan desa ini maka desa Niaso semakin Maju seimbang dengan pertumbuhan perekonomian di sepanjang jalan telah berdiri POM Bensin ,Pabrik Kelapa Sawit, Dermaga Batubara , Cangkang Sawit sehingga banyak warga menggantungkan kehidupannya di daerah ini pertumbuhan yang semakin pesat ini tidak mengubah adat istiadat desa setempat.Hingga akhirnya menjadi sejajar dengan desa-desa
tetangga. Apabila didalam penulisan kata-kata, nama, tempat, waktu, dan tahun
kurang tepat dengan sejarah yang sebenarnya dan kurang berkenan dihati para
sejarah desa Niaso, kami minta maaf dan menerima kritik dan saran untuk
memperbaiki isi tulisan asal usul desa Niaso. Atas perhatiannya kami ucapkan
terima kasih. Narasumber : 1. Ketua BPD sekarang Bapak A. Sani.
Narasumber : 1. Ketua BPD sekarang Bapak A. Sani.
kades Desa Niaso : Sarkoni

Comments
Post a Comment
KALAU MAU KOPI HARUS KOMENTAR TERIMA KASIH KALAU TIDAK SAYA MOHON MAAF ANDAN TIDAK DAPAT MASUK BLOG INI LAGI